Manfaat Teknologi dari Sudut pandang Islam
18 November 2013 at 13:11 (
ISLAMI)
Pengembangan teknologi memerlukan usaha secara sungguh sungguh,
baik dalam bentuk penemuan sains sebagai basisnya, maupun penerapan dan
pengembangan sains tersebut dalam bentuk teknologi. Usaha pengembangan
teknologi tersebut dilakukan karena diyakini memiliki manfaat yang
dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Di antara manfaat‑manfaat teknologi
tersebut adalah :
a. Memperoleh Kemudahan
Kemampuan fisik manusia untuk meraih berbagai kebutuhan hidup sangat
terbatas. Pandangan mata, pendengaran telinga manusia terbatas, begitu
pula kekuatan dan keterampilan tangan dan kakinya. Kemampuan fisik
manusia itu tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan. Tetapi
manusia sebagai khalifah Allah diberikan kemampuan akal‑pikiran untuk
memanfaatkannya menemukan cara‑cara yang tepat dan efektif guna meraih
kebutuhan hidup yang tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik
semata. Akal‑pikiran manusia mampu mendayagunakan segala yang Allah
ciptakan di bumi ini. Kemampuan itu memang telah ditentukan oleh Allah
Swt sebagaimana Allah nyatakan dalam firman‑Nya
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا
مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ (الجاثية : 13)
Artinya: “
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (QS. Al-Jatsiyah (45):13).
Menurut Quraish Shihah dalam Wawasan Al-Qur’an, kata sakhara dalam
ayat tersebut arti harfiahnya menundukkan atau merendahkan, maksudnya
adalah agar alam raya dengan segala, manfaat yang dapat diraih darinya
harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya di bawah
manusia. Karen aitu tidak wajar apabila hal itu justru terbalik, artinya
tidak wajar sendiri telah ditundukkan untuk manusia. Kepasrahan atau
ketundukan manusia kepada sesuatu yang lebih rendah, yang ditundukkan
kepada manusia adalah suatu sikap yang tidak wajar, yang bertentangan
dengan maksud Allah, karena manusia sebagai khalifah-Nya memiliki
derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan segala makhluk yang Allah
ciptaan.
Memperoleh kemudahan dalam hidup dengan mengembangkan potensi diri
dan dengan memanfaatkan segala yang Allah tundukkan bagi manusia di alam
ini sejalan dengan kehendak Allah. Allah menghendaki manusia memperoleh
kemudahan, dan tidak menghendaki menghadapi kesusahan hidup. Hal itu
dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:
… يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ … (البقرة : 185)
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah (2) :185).
Allah menyatakan, bahwa memang Allah sengaja memberikan berbagai kemudahan kepada manusia agar manusia hidup dengan mudah.
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى. (الأعلى : 8)
Artinya: “Dan
Kami memberimu kemudahan agar kamu memperoleh kemudahan”. (QS. al‑A’la (87) : 8).
b. Mengenal dan Mengagungkan Allah.
Apabila manusia mampu menghayati akan makna sains dan teknologi yang
dikembangkannya, bahwa sernua itu bukan semata‑mata karena faktor diri
pribadi manusia, tetapi ada faktor lain di luar dirinya, maka manusia
akan memperoleh jalan untuk mengenal sesuatu yang lain di luar dirinya
itu, yaitu Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Bijaksana,
yaitu Allah SWT. Kesempurnaan alam dengan struktur dan sistemnya tidak
bisa dibayangkan akan terbentuk dengan sempurna apabila tidak ada
kesengajaan pihak lain, yaitu Yang Maka Kuasa dan Maha Sempurna. Semakin
luas dan dalam pengetahuan manusia akan rahasia alam ini, maka semakin
dekat manusia untuk mengenal Pencipta alam ini, yaitu Allah, Sang
Khalik. Ketika pertama manusia mengembangkan teknologi bangunan, manusia
telah diberikan contoh langit yang tinggi, yang luas dan kokoh, yang
tidak takut akan runtuh. Begitu pula ketika manusia mengembangkan
teknologi pesawat udara, Allah telah memberikan contoh bagaimana burung
bisa terbang di angkasa dengan stabil, mampu mempertahankan keseimbangan
tanpa takut jatuh, dan lain sebagainya. Karena itu ketika menerangkan
berbagai struktur di alam ini, Allah menyatakan bahwa semua itu menjadi
pelajaran bagi manusia untuk lebih mengenal dan mengangungkan Allah
penciptanya. Hal itu dapat kita pahami dari berbagai ayat Al-Qur’an,
diantaranya:
أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)
وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19)
وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) سورة الغاشية
Artinya: (17) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?
(18) Dan langit, bagaimana dia ditinggikan?
(19) Dan gunung-gunung, bagaimana dia ditegakkan?
(20) Dan bumi, bagaimana dia dihamparkan?
(21) Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu
hanyalah orang yang memberikan peringatan. (QS. Al-Ghasiyah (88):
17-21).
Dalam firman Allah menyatakan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. (ال عمران : 190)
Artinya: “S
esungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda‑tanda bagi orang yang
berakal “. (QS. Ali Imran (3) : 190).
Teknologi, dan juga sains hanyalah sarana untuk lebih meningkatkan
pengenalan manusia kepada Allah Penciptanya. Kebesaran Allah akan lebih
jelas bagi orang yang berpengetahuan dibandingkan dengan orang yang
kurang pengetahuannya. Karena itu Allah menyatakan :
… إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا … (فاطر : 28)
Artinya: “S
esungguhnya orang yang takut kepada Allah di
antara hamba hainba‑Nya, hanyalah orang yang berilmu pengetahuan”. QS.
Fathir (35) : 28).
c. Meningkatkan Kualitas Pengabdian Kepada Allah
Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada‑Nya. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ. (الذاريات : 56)
Artinya
: “Dan tidaklah Au menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”. (QS. al‑ Dzariyat (51) : 56).
Seluruh aktivitas hidup manusia hendaknya diwujudkan sebagai
pelaksanaan pengabdian kepada Allah tersebut. Pengabdian manusia kepada
Allah di sini adalah pengabdian dalam arti luas, yaitu seluruh
aktivitas, yang memenuhi kriteria (1) diniatkan untuk menaati aturan
Allah; (2) dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang diberikan alah,
baik dalam bentuk kegiatan yang telah ditentukan tata caranya maupun
dalam bentuk penggalian jenis kegiatan yang bermanfaat yang sejalan
dengan nilai-nilai kebenaran yang ditunjukkan Allah; dan (3) dimaksudkan
untuk memperoleh ridha Allah.
Nilai sebuah pengabdian manusia kepada aalah membuat manusia harus
mengesampingkan kesenangan atau kepuasan pribadi, dengan catatan bahwa
apa yang Allah ridhai bagi manusia adalah sesuatu yang terbaik bagi
manusia. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu yang paling bermanfaat bagi
manusia, dan Allah tidak menginginkan kesenangan-Nya sendiri dengan
mengorbankan kepentingan manusia. Alah Maha Kaya dan Maha Kuasa sehingga
Dia tidak menginginkan apapun dari pengabdian manusia kepada-Nya.
Kewajiban yang Allah berikan pada manusia untuk mengabdi kepada-Nya
adalah untuk kepentingan manusia sendiri, untuk kemaslahatan manusia.
Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar dalam
konteks tugas pengabdian manusia tersebut, maka teknologi diyakini akan
mampu meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah. Jam misalnya,
adalah produk teknologi yang dimanfaatkan oleh umat Islam setiap hari
untukl mengetahui waktu-waktu shalat sehingga umat Islam dapat
menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya, begitu pula kompas
dimanfaatkan untuk mengetahui arah kiblat sehingga tidak terjadi salah
arah dalam shalat. Dalam hal produk teknologi pangan, dengan banyaknya
produk makanan yang beredar di masyarakat, kita mampu mengetahui
komponen‑komponen yang dipergunakan sebagai bahan, proses pembuatannya,
sehingga kita dapat mengetahui apakah makanan yang kita konsumsi itu
halal atau haram, begitu pula dengan produk‑produk teknologi lainnya.
Apabila berbagai kemajuan yang dicapai manusia diniatkan dan
diarahkan untuk kepentingan peningkatan kualitas pengabdiannya kepada
Allah, maka kemajuan yang dicapai itu tidak membuat manusia menjadi
lalai akan tugas kehidupannya. Karena itu Allah memerintahkan dalam
firman‑Nya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؟ (الأنعام : 162)
Artinya : “Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al‑An’am (6) : 162).
d. Memperoleh Kesenangan dan Kebahagiaan Hidup
Kemudahan‑kemudahan yang diperoleh manusia melalui pemanfaatan
teknologi membuat manusia dapat memperoleh kesenangan dan kebahagiaan
hidup serta tetap dalam koridor kesenangan dan kebahagiaan yang halal,
yang diridhai Allah. Allah tidak menghendaki manusia hidup susah, tetapi
sebaliknya Allah menghendaki manusia hidup senang, hidup bahagia.
Ketika Allah menempatkan Adam dan istrinya di bumi, Allah berfirman:
… وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ. (البقرة : 36)
Artinya: “ …. dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan
kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (Qs. Al-Baqarah (2): 36).
Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan
oleh Allah itu, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di
bumi, sebagaimana Allah nyatakan:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ
اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ
شَيْءٍ عَلِيْمٌ. (البقرة : 29)
Artinya: “Dia-lah Alah yang menjadikan segala yang ada di bumi
untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS.
Al-Baqarah (2): 29).
Sekalipun kesenangan dan kebahagiaan hidup itu sejak awal penciptaan
manusia telah diizinkan oleh Allah, tetapi Allah mengingatkan agar
kesenangan itu jangan sampai membuat manusia lupa diri, yang
mengakibatkan manusia tergelincir dalam kesesatan dan dosa. Hal itu
dapat kita pahami dari peringatan Allah kepada Nabi Hud dan umatnya yang
menjadi pelajaran bagi kita semua sebagaimana difirmankan oleh Allah:
قِيْلَ يَانُوْحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ
وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ
مِنَّا عَذَابٌ أَلِيْمٌ. (هود : 48)
Artinya: “D
ifirmankan : “Hai Nuh, turunlah dengan selamat
dan sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat‑umat
(yang mukmin) dari orang‑orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat‑umat
yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian
mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”. (QS. Hud (11) : 48).
Tidak sedikit orang yang kelihatan hidupnya taat kepada Allah,
kelihatan alim, kekeluargaannya juga baik ketika hidup susah, tetapi
begitu hidup senang dia lupa, terpedaya oleh kesenangannya. Fenomena
yang monumental dalam kasus tersebut adalah kasus Qarun yang diabadikan
dalam QS. 28 (al‑Qashash) : 76‑82. Qarun adalah simbol kekayaan dan
kemegahan hidup sehingga kunci bangunannya saja susah dibawa oleh. orang
yang perkasa. Tetapi karena kesombongan dan kelalaiannya itulah yang
menyebabkan ia mendapat azab dari Allah sehingga ia dan kekayaannya itu
hilang ditelan bumi. Sebagaimana firman Allah :
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ
يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ (81
وَأَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُوْلُوْنَ
وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا
وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ (82) القصص
Artinya: (81) Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya
ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya
terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat)
membela (dirinya).
(82) Dan jadilah orang-orang yang kemarin menciptakan kedudukan
Karun itu berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rizki bagi siapa
yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya, kalau Allah
tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah
membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang
yang mengingkari (nikmat Allah) (QS. Al-Qashash (28); 81-82).
e. Meningkatkan Kemampuan Memanfaatkan Kekayaan Alam
Seorang pekerja bangunan yang kuat dan masih muda, masih memiliki
semangat kerja dan daya tahan tubuh tinggi menggali tanah dengan
peralatan tradisional untuk pondasi bangunan dalam satu hari ia hanya
mampu menggali beberapa meter kubik, begitu pula pekerja tambang, dan
lain‑lain. Ketika para pekerja tersebut menggunakan peralatan berat, ia
mampu meningkatkan produktivitas kerja berlipat ganda. Bahkan banyak
kekayaan alam yang tidak mungkin dideteksi keberadaannya dan dilakukan
eksplorasi tanpa menggunakan teknologi canggih, seperti sumber minyak
yang berada di kedalaman ribuan meter atau di dasar laut. Padahal semua
itu disediakan oleh Allah untuk kesejahteraan hidup manusia.
Teknologi meningkatkan kemampuan manusia melakukan eksplorasi
kekayaan alam tersebut secara optimal. Banyak negara, bangsa yang tidak
memiliki kekayaan alam memadai tetapi karena memiliki kemampuan
teknologi canggih hidup lebih sejahtera dibandingkan dengan negara,
bangsa yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi teknologinya
tertinggal. Jepang umpamanya, adalah sebuah negara kecil, yang miskin
akan kekayaan alam, tetapi kemajuan teknologinya tinggi, ia lebih kaya
dibandingkan dengan Indonesia yang kekayaannya melimpah tetapi
tertinggal kemajuan teknologinya dibandingkan dengan Jepang. Masih
banyak negara di dunia ini yang kaya seperti Jepang dan yang tertinggal
seperti Indonesia.
Eksplorasi kekayaan alam diingatkan oleh Allah agar jangan sampai tak
terkontrol sehingga berubah menjadi eksploitasi alam, yang
mengakibatkan kerusakan alam, terganggunya keseimbangan lingkungan,
karena justru akan mengakibatkan timbulnya malapetaka bagi manusia,
seperti banjir, pencemaran lingkungan, ,dan lain-lain. Dalam firman
Allah:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي
النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُوْنَ. (الروم : 41)
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)” (QS. Ar-Rum (30):41).
Bumi ini Allah ciptakan dengan baik, artinya memiliki kesempurnaan
dankeseimbangan sehingga dapat bertahan dan menyediakan berbagai
kebutuhan hidup manusia. Karena itu Allah mengingatkan agar pemanfaatan
kekayaan alam yang ada di bumi ini jangan sampai mengganggu keseimbangan
alam tersebut. Hal itu Allah ingatkan dalam firman-Nya:
وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ
خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ.
(الأعراف: 56)
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa
takut (tidak akan diterima)
dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang‑orang yang berbuat
baik”. (QS. al‑A’raf (7) : 56).
f. Menumbuhkan Rasa Syukur Kepada Allah.
Bagi orang beriman, sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari
rezeki halal yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur
kepada‑Nya sebagai pemberi nikmat. Apalagi dengan kemajuan teknologi
yang mampu melipat‑gandakan nikmat itu kepadanya, maka rasa syukur
kepada‑Nya pun juga akan berlipat ganda. Rasa syukur kepada Allah yang
paling ringan adalah mengucapkan
“alhamdulillahi rabbil ‘alamin “, namun
hakikat syukur yang sebenarnya adalah memanfaatkan nikmat itu secara,
benar untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Karena itu
diperlukan tekad, kesungguhan untuk mewujudkan rasa syukur dalam amal
kehidupan secara riil. Allah mengingatkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ. (إبراهيم : 7)
Artinya:
“Dan (ingatlah) tatakala Tuhanmu memaklumkan
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat‑Ku), maka sesungguhnya
azab‑Ku sangat pedih “. QS. Ibrahim (14) : 7).
Sekalipun demikian, memang banyak manusia, bahkan kebanyakan manusia
tidak menyadari kalau nikmat itu adalah anugerah Allah sehingga ia tidak
mensyukuri nikmat tersebut. Hal ini juga diingatkan oleh Allah dalam
firman-Nya:
… إِنَّ اللهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُوْنَ. (البقرة : 243)
Artinya: “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia,
tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (QS. Al-Baqarah (2): 243).
Teknologi membuat manusia semakin mudah meraih keinginannya, semakin
ringan beban hidup yang harus ditanggung, semakin besar hasil yang bisa
diperoleh. Kemudahan, keringanan, dan kenikmatan itu tidak mustahil
membuat manusia semakin lupa kepada Allah, semakin jauh dari-Nya,
apabila tidak disikapi secara cermat dan diiringi dengan iman yang
teguh. Karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi oleh
iman agar pemanfaatannya terarah untuk meningkatkan kualitas takwanya
kepada Allah SWT